21 December 2012

ONE DAY NO RICE / NO NASARI ( NO Nasi Satu Hari )



Pencanangan NO NASARI ( No Nasi Satu Hari ), atau yang Biasa Dikenal ONE DAY NO RICE. Pada hari Kamis, tanggal 20 Desember 2012 di Pendopo WEDYA GRAHA Kabupaten Ngawi, Pemerintah Kabupaten Ngawi dalam Hal ini BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PELAKSANA PENYULUHAN yang berperan sebagai penggagas Pencanangan NO NASARI di Kabupaten Ngawi. Selain dalam acara tersebuat juga di adakan LOMBA KUDAPAN / JAJANAN Non Beras yang di ikuti Oleh 32 Peserta yg Menampilkan Berbagai macam Olahan Jajanan dengan Berbagai macam Bentuk dan Kreasi.

Ngawi Memang Bukan yang Pertama, hal serupa juga sudah dilalukan oleh Depok, tapi Menurut saya pribadi hal ini Merupakan Langkah dan gebrakan yg amat sangat Spektakuler dan Bagus untuk Ketahanan Pangan Nasional, selain itu juga dapat membantu mengendalikan Harga Beras Nasional, BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PELAKSANA PENYULUHAN yang di Nahkodahi Oleh Bapak Ir. Slamet Purwono, MMA dan Ide Pencanangan ini Di Motori oleh Bpk. Suluh Hendrawan, Msi sebagai Sekretaris BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PELAKSANA PENYULUHAN dan di dukung oleh seluruh Staf dan jajarannya.

Pencanangan NO NASARI ( No Nasi Satu Hari ) sebenarnya bisa dipahami. Melihat produksi beras nasional yg tak sebanding dengan permintaan menyebabkan pemerintah kerap kali terpaksa melakukan impor beras untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Dengan mengajak masyarakat untuk mengurangi dan mengganti nasi dengan makanan lain, maka tentu saja hal ini akan sedikit membantu meyelesaikan permasalahan ketahanan pangan di Indonesia, terutama beras. Selain itu Pencanangan NO NASARI ( No Nasi Satu Hari ) tersebut untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap pangan lokal selain beras. Sehingga dapat membiasakan hidup hemat masyarakat dan membiasakan diri tidak memakan nasi. “Tetapi harus memanfaatkan pangan lokal seperti Ketela, ganyong, ubi, jagung dan pisang yang dapat tumbuh baik di Ngawi, masyarakat harus digerakkan untuk pekarangan untuk meningkatkan jenis tanaman lokal. Pekarangan yang belum dimanfaatkan harus mulai digagas sejak kini.

Meskipun Tak di pungkiri dari banyaknya keuntungan dan sisi positif tentang Pencanangan Tersebut, banyak sekali pertanyaan yang muncul antara lain : Apakah bisa ?, Sejauh mana pencangan itu tersebar luas ?, seberapa penting dan apa keuntungan adanya program tersebut, secara vertikal dan horisontal ?dan mungkin masih banyak lagi yang ada dalam benak kita??????

Terlepas dari berkecamuknya pertanyaan-pertanyaan itu, bagi saya pribadi Pencanangan dan gerakan ini positif dan patut untuk diwujudkan. Kita harus merubah MindSet dan cara berfikir serta mengikis image bahwa ” belum makan nasi, sama saja belum makan”. Tentu saja sekali lagi butuh kerja keras dan kesabaran agar pencanangan NO NASARI ( No Nasi Satu hari ) ini bisa terlaksana dengan baik. Karena ini menyangkut “kebiasaan” yang sudah tertanam sejak kecil dan turun-temurun bahwa nasi adalah makanan pokok kita, bila perlu bisa menjadi gerakan yang kontiniu dilaksanakan paling tidak sekali dalam seminggu. Tentu saja ini diperlukan sosialisasi yang dilakukan secara terus-menerus bila ingin mendapatkan manfaat besar dariPencanangan NO NASARI ( No Nasi Satu Hari ) ini.